h1

Pertarungan Didong Jalu

June 19, 2008

Setelah sukses mengadakan acara Malam Seni Budaya Gayo di Warung Apresiasi Bulungan beberapa waktu lalu, kini Pengurus Musara Gayo Jabodetabek dibawah Bidang Seni dan Budaya mempersembahkan acara pertarungan “Didong Jalu Semalam Suntuk”. Acara yang diadakan pada tanggal 7 Juni 2008, berlangsung mulai dari Pukul 20.30 wib hingga pukul 05.00 wib keesokan harinya terbilang cukup spektakuler.

Bagaimana tidak, acara yang dikemas sangat apik ini dihadiri lebih dari 500 orang Gayo yang berada di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok & Bekasi). Bahkan dalam acara itu juga dihadiri oleh Bupati Bener Meriah Ir. Tagore AB, Bupati Aceh Tengah Ir.H.Nasaruddin MM, Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam yang diwakili oleh Letjen Nurrohaman serta perwakilan Kedutaan Besar Malaysia.

Acara ini menjadi istimewa karena grup-grup Didong yang bertarung bukan mewakili grup-grup kampung seperti biasa, tapi mereka mewakili 2 kabupaten yang ada di Dataran Tinggi Gayo, yakni Aceh Tengah dan Bener Meriah. Ceh-cehnya (Penyair) pun tak kalah istimewa, mereka merupakan ceh-ceh yang telah memiliki nama besar di Jagad Perdidongan, bahkan kedua Bupati juga “turun tangan” menjadi ceh untuk memperkuat grup dari daerahnya masing-masing. Kabupaten Bener Meriah memboyong langsung 7 orang Ceh-ceh andalan dari Tanah Gayo, mereka adalah M Isa, Baharudin, Iriansyah, Karyawandi, Mahlil Lewa, Iskandar, Abdul Rahman, Alhuda sedangkan Kabupaten Aceh Tengah pun tak mau kalah, membawa serta ceh (Penyair) terbaiknya seperti Mahlil, Win Kul, Saladin, Rahmatsyah, Kasman, Karwan, Amran, dan Karmin.

Pertarungan antar kedua grup Didong tersebut disiarkan secara live oleh TVRI selama 1 jam, yang dimulai pada jam 11 malam. Jadwal tersebut mundur 1 jam dari rencana semula karena alasan non teknis. Sebelum acara didong tersebut dimulai, terlebih dahulu diawali dengan nyanyi bersama lagu wajib Tawar Sedenge karangan Alm. AR. Moese. Kemudian dilanjutkan beberapa kata sambutan oleh panitia, pengurus Musara Gayo dan pejabat berwenang.

Acara-acara yang tak kalah seru setelah kata sambutan dan sebelum acara didong dimulai adalah “Sebuku” (seni ratapan) yang dibawakan oleh si anak seribu pulau, Ceh Kucak Kabri Wali dan Hilawati atau yang akrab disapa “Inen Aina”. Puisi dengan Judul Takengon 29 ribu kaki yang dibawakan oleh Fikar W. Eda juga terdengar lantang dan menggelegar mengisi sela-sela haru birunya sebuku yang tersedu-sedu sambil diiringi lengkingan Cello yang digesek malu-malu oleh Jassin Burhan si pemuda berbaju biru serta Penari Guel yang menari-nari di atas Sirip Ekor Pesawat DC 3 yang tepat berada di belakang panggung.

Acara seni berkhazanah gayo lainnya yang disuguhkan secara berurutan adalah lantunan lagu “Takengon” oleh Grup Buntul Kubu kemudian Marawis yang dibawakan oleh anak-anak kecil keluarga aceh Bambu Apus, Serta Tembang-tembang lawas dari Gayo, salah satunya berjudul Jempung oleh grup Gayo Sebayung (Setu, Bambu Apus dan Cipayung – nama daerah di Jakarta Timur). Selanjutnya lagu berjudul “Geremukunah” yang dibawakan dengan bersemangat oleh ULes, Pio, Nanda dan Citra, 4 orang kekanak beru penerus seniman gayo yang rata-rata masih duduk di bangku SD.

Selain ceh-ceh didong, Bener Meriah juga membawa Sakdiah, seorang artis Gayo yang memiliki suara khas dan merdu. Malam itu dia didaulat menyanyi bersama Artis Aceh Tengah, Abadi, yang membawakan beberapa lagu gayo. Sakdiah dalam lagunya Ulak Ku Gayo dan Abadi dengan tembang Ampung-ampung Kulo mampu membius para penonton yang membawa kocek berlebih. Mirip istilah Saweran yang ada di Jawa Barat atau Tor-tor di Sumatera Utara, kedua artis ini dihujani amplop dan beberapa lembar uang kertas berwarna biru yang dari jauh nampak seperti pecahan 50.000-an dari masing-masing orang (penyawer) yang naik ke atas panggung.

Tepat sebelum pukul 23.00 wib, acara kemudian diambil alih oleh Pihak TVRI untuk persiapan acara Live. Untuk menyukseskan acara live selama sejam kedepan maka para penonton diajak latihan sesaat, kapan harus tepuk tangan dan mengatur posisi penonton. Menurut informasi, acara malam “Didong Jalu Semalam Suntuk” yang disiarkan TVRI secara live hanya 1 jam dengan beberapa kali pemotongan iklan, namun sebenarnya acara Off Airnya berlangsung hingga pagi, sebelum azan subuh berkumandang. Sepanjang Pertarungan, masing-masing Grup yang terdiri dari 7 Orang Ceh dan 30 Orang Penepuk (Tangan & Bantal) tersebut membawakan Didong selama 30 menit secara bergantian.

Pertarungan kedua Tim dinilai oleh 3 Orang Juri dan 1 Orang Pengamat. Kriteria dari penilaian Karya Seni Didong Gayo di Bagi dalam 3 Parameter. Parameter-parameter tersebut seperti Kekata (Lirik), Sintak (Lagu) dan Penampilan serta Improvisasi.

Poin-poin yang menjadi amatan Juri untuk Parameter Kekata (Lirik), yaitu harus berbobot Interaktif, Simultan, Tajam, Mengena, Bijak & Simpatik, Lemah Lembut & Tidak Kasar. Sementara untuk Parameter Sitak (Lagu) yang menjadi syarat adalah Irama Tradisional Gayo, Merdu, Memukau, Suara Indah, Sfesifik, Gempar, Serak Basah (Parau/Payo), sedangkan untuk Parameter terakhir yang dinilai adalah Penampilan dan Improvisasi, disini para pemain Didong harus Kompak/Kelop Gerakan Ritmis, Beden-beden, Kertek Jemari, Tingkah Tepok, Tepok Rucang dan Kostum.

Sayangnya kedua belah Grup yang bertanding, baik dari Grup “Didong Aseli Bener Meriah” dan Grup “ Didong Aseli Aceh Tengah” tidak melakukan apa yang disyaratkan oleh Juri. Pertarungan Didong yang sengit itu saling mengeluarkan sindiran dan pujian kepada masing-masing pesaing. Mendengar lantunan para ceh yang kocak, kerap kali mengundang gelak tawa penonton yang hadir pada malam itu. Karena sulit bagi juri untuk memutuskan mana yang terbaik atau yang lebih baik diantara Grup Didong Jalu ini, maka diputuskan Juara “Kesatu” diberikan Kepada Grup Bener Meriah, dan Juara “Pertama” Jatuh Pada Grup Aceh Tengah”. Sebagai hadiah untuk para ceh, diberikan tropi dan piagam dari pihak panitia.

Persiapan hajatan besar ini termasuk relatif singkat, yaitu kurang lebih 4 hari, namun telah memberikan tontonan yang menghibur dan sangat memuaskan bagi penonton yang bertahan hingga pukul 5 pagi. Menariknya, walaupun acara hingga subuh, sebagian besar penonton mulai dari balita hingga lanjut usia terlihat antusias dan tetap menyaksikan acara ini hingga selesai. Menurut panitia, misi yang paling penting bukan hanya bertanding tetapi mengenalkan seni dan budaya gayo kepada dunia luar atau setidaknya untuk anak-anak dari keturunan gayo yang kurang mengenal adat leluhurnya karena terlalu lama tinggal diluar Tanah Gayo. Diantara  penonton yang hadir malam itu, terlihat beberapa orang asing seperti dari Jepang dan Amerika.

Terakhir, saat penutupan acara ini pihak panitia juga menyampaikan bahwa Grup Didong Aceh Tengah akan tampil di Malaysia atas undangan Pemerintah Negara itu pada tanggal 23 Juni 2008, sedangkan Grup Didong Bener Meriah juga diundang oleh Kerajaan Brunei Darussalam untuk tampil di sana Pada Bulan Juli 2008. (www.uwein.multiply.com)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.